Lost Focus

I'm thinking about everything. Or maybe… i don't think?

Kembali ke Tanah Lahir

Saya telah beberapa kali menulis tentang perjalanan dan destinasi di Indonesia. Rasanya menyenangkan bukan, jika kita bisa berbagi cerita sekaligus mempromosikan tempat tersebut kepada orang lain. Hingga suatu hari, seorang teman bertanya, “Ada wisata apa saja di daerah asalmu?”. Saya mengulas senyum. Padahal, saya sedang berpikir keras menemukan jawaban yang tepat.

DSC01024

Jika bicara tentang Kalimantan Selatan, sebagian orang akan mengenal Banjarmasin, Ibu Kota provinsi ini. Sebagian orang yang mengenal Banjarmasin, mungkin mengetahui tentang Pasar Terapung. Katanya, pasar terapung tradisional yang masih berjalan hingga sekarang, hanya terdapat di Thailand dan di Banjarmasin. Anak-anak yang sudah memiliki kesadaran di tahun 90-an pasti ingat lokasi ini yang ditayangkan berulang kali oleh salah satu stasiun TV swasta. Seorang ibu di pasar terapung mengangkat jempolnya.

Jadi, ketika saya menjawab pertanyaan teman saya dengan menyebutkan pasar terapung, ada sedikit jeda dan senyap yang hambar. Ia menatap saya seolah-olah berbicara, “iya, kami yang senang jalan-jalan ini tahu, kok, ada pasar terapung. Lalu, apa lagi?”. Tatapan itu saya tanggapi dengan menangkap kupu-kupu yang terbang melintas di antara kami.

Saya mengenal, menuliskan, dan mempromosikan tentang destinasi di daerah lain.

Pemandangan Lembah Harau di Sumatera.

Pantai-pantai biru bersih di Maluku.

Wisata kuliner di Pulau Jawa.

Atau pesta rakyat di Sulawesi.

Sayangnya, saya sendiri tidak cukup mengenal daerah saya sendiri.

Padahal, tiket pesawat ke Banjarmasin dari Jakarta, tidaklah mahal.

Hotel berbintang juga sudah banyak.

Di situ kadang saya merasa sedih.

Yang saya tahu dan saya pikir,

Pantai-pantai di Kalimantan Selatan tidak sebagus pantai-pantai di Indonesia Timur. Warna air lautnya lebih ke cokelat-cokelat lucu ketimbang biru-biru manis.

Bawah laut di perairan pulau-pulau kecil sekitar Kalimantan Selatan juga tidak akan bisa menyaingi perairan di timur Indonesia. Visibility-nya tidak terlalu bagus, agak butek-butek blur.

Pegunungan di Kalimantan Selatan tidak bisa dicapai semudah melewati daerah puncak di Pulau Jawa dengan mobil. Perlu berjam-jam berkendara dan jalan kaki.

Upacara dan perayaan tradisional di daerah kami juga tidak seeksotis dan semeriah yang biasa ditemui di Sumatera dan Sulawesi. Kebanyakan acara, dilakukan sederhana, cenderung kalem.

Pelayanan dan keramahan akan wisatawan di tempat kami, belum seprofesional di Bali. Dan tentu saja tidak akan maju, jika belum mendapat dukungan dan perhatian.

Namun, itu yang hanyalah yang saya tahu, masih banyak yang saya tidak tahu.

Di situ kadang saya merasa sedih.

Saya belum bisa menuliskan atau mempromosikan hal-hal yang bahkan saya belum kenal.. Jadi kali ini, saya akan kembali dan mencari tahu lebih banyak. Mengeksplor destinasi menarik di Kalimantan Selatan. Mendapati yang bisa dilakukan untuk promosi wisata di sini. Mengenal lebih jauh yang dekat dengan diri sendiri. Memaknai perjalanan saat kembali. Belajar untuk mengingat kembali hal-hal menyenangkan di tanah sendiri. Di situ kadang saya merasa… ah, sudahlah.

13 hal absurd menyenangkan  di Kalimantan Selatan (yang kebahagiaannya hanya bisa didapat saat mencobanya)

1. Tidak perlu menunggu lebaran untuk makan ketupat. Warung Ketupat Kandangan buka setiap hari dan menyajikan ketupat dengan kuah dari Ikan Haruan.

2. Jarang sekali ditemukan Ikan Haruan di tempat lainnya di Indonesia. Juga Ikan Papuyu. Juga Sapat. Dan Kapar. Atau Telang. Telang asam manis. Papuyu diberi Wadi. Atau Sapat kering cocol kuah asam.

3. Belum ada yang bisa menyamai Bumbu Masak Habang orang Banjar, Kalimantan Selatan. Apalagi buatan nenek saya, tapi beliau sudah meninggal dunia.

4. Karena Lontong Banjar dan Soto Banjar itu rasanya lezat nggak termaafkan. Dan, bagi lidah saya, soto terenak di Indonesia itu adalah Soto Banjar.

5. Mungkin saya nggak bisa bawa oleh-oleh seterkenal Bakpia dari Jogjakarta atau Bika Ambon -Bukan, Bika Ambon bukan dari Ambon. Karena kudapan khas orang Banjar adalah Wadai 41. Wadai berarti kue, dan ada 41 jenis kue khas Banjar. Yang sebagian besar adalah kue basah.

6. Kami tidak melakukan upacara adat pernikahan seheboh daerah lainnya. Tapi, saking lucunya, bagaimana saya bisa menceritakan kembali tentang tamu undangan yang tergelak karena tradisi “Bepantunan” di nikahan orang Banjar?

7. Main-main air di sungai di Loksado saja bisa jadi seru. Asal perginya bersama orang yang dicintai, misalnya, teman dan keluarga.

8. Yang suka bebatuan alam, bisa menemukan kebahagian di Pasar Intan Martapura. Mau batu akik, batu intan, dan batu-batu alam lainnya dijual murah di sini. Kalau batu bara, beda lagi. Batu yang itu sih dikeruk terus dari Kalimantan, tapi tempat ini juga yang paling sering kena mati listrik bergilir.

9. Tenun dan songket di daerah lain dipuja-puja. Harganya bisa jadi sangat mahal. Batik menjadi kain khas Indonesia yang dicari-cari. Sementara itu, Kalimantan Selatan juga punya Sasirangan yang coraknya membuat anak muda bisa terlihat menjadi pemuda kekinian yang modis dan nasionalis.

10. Biar tampaknya cupu begini, waktu SD, saya adalah pemain sepatu roda yang gaul di Lapangan Murjani, semacam alun-alun Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Lapangan Murjani dan sekitarnya menjadi titik pertemuan anak-anak gaul, di mana mereka nongkrong sambil makan jagung bakar atau pentol goreng.

11. Sarapan sehari-harinya orang Banjar adalah Nasi Kuning Bungkus, yang popularitasnya ngalah-ngalahin nasi uduk. Atau jenis sarapan lainnya.

12. Cobalah sekali-kali trekking di hutan Mandiangin, Pegunungan Meratus. Berdoalah kepada Yang Maha Kuasa sebelum melakukan perjalanan ini. Apalagi perjalanan yang dilakukan bersama dengan seorang senior perempuan yang baru saja ditinggal menikah mantan pacar sambil bersenandung lagu ‘Tenda Biru’.

13. Bahwa Bandara Syamsuddin Noor hanya berjarak 20 menit dari rumah saya. Tanpa melewati jalan tol.

Ketigabelas hal di atas, adalah hal-hal menyenangkan yang bagi orang lain, mungkin tidaklah penting. Apalagi setengahnya berfokus pada makanan. Karena itulah, saya berniat kembali ke tanah lahir untuk mengeksplor lebih banyak tentang tempat ini. Teman-teman saya bilang, sudah mulai banyak destinasi di Kalimantan Selatan yang mulai menarik pengunjung di dalam Kalimantan Selatan sendiri, seperti:

1. Bukit Rimpi. Ketika melihat fotonya di Google, saya berniat untuk guling-guling di rumput sambil berseru, ‘i feel free!’. Tapi saya urungkan niat tersebut setelah mendengar teman saya yang berkata, ‘ada kemungkin kamu nyungsep ke e’ek sapi.’

2. Bukit Labirin. Saya berniat melakukan petualangan ala Maze Runner di tempat ini. Tapi saya tidak begitu yakin akan melakukannya sendirian. karena saya pasti akan tersesat. Saya buta arah.

3. Pulau Samber Gelap. Saya berniat untuk membuat foto lanskap sunset di pulau ini. Bukan apa-apa. Hanya karena ketika saya googling, referensi fotonya siang semua.

4. Bamboo Rafting. Aktivitas ini sudah sering dijumpai jika googling tentang wisata Kalimantan Selatan. Tapi saya belum pernah mencobanya.

Mungkin, sebagian orang berpikir hal ini aneh. Saya menggunakan kesempatan mengikuti lomba blog hanya untuk kembali ke tanah kelahiran saya. Tapi saya pikir, saya membutuhkan kekuatan untuk menulis, dan juga fotografi untuk mempromosikan wisata di tanah lahir saya. Untuk menggambarkan seperti apa rupa Kalimantan Selatan. Untuk memasukkan video promosi baru di channel youtube

https://www.youtube.com/user/theindonesiatravel

Membuat 13 tulisan perjalanan dengan 13 foto. Serta 13 video promosi wisata Kalimantan Selatan

Karena itulah, Alexander Thian, pinjamkan kekuatan Anda untuk melakukan itu semua. Saya akan belajar dari Anda dengan segenap kekuatan bulan. :))

Hingga nantinya, misi baru saya adalah menambah 13 hal baru- semoga saja tidak absurd- yang tidak hanya menyenangkan untuk saya, tapi juga bagi yang bertanya, “Ada wisata apa saja di daerah asalmu?”

Lomba BLOG-2

Advertisements

One comment on “Kembali ke Tanah Lahir

  1. senangsenangyuks
    May 4, 2015

    Soto banjar aku paling suka, nasi kuning haruan the best, ketupat kandangan baru kenal tapi udah suka, ehm wadai lumpur (kue bika) favorite kami, untuk2 pisang gak ada yang ngalahin (makanan semua yah), pokoknya makanan Banjar pas di lidah kami, belum lagi kerajinan dari batu-batu di Martapura, paling suka. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 20, 2015 by in Travel and tagged , , , .
%d bloggers like this: