Lost Focus

I'm thinking about everything. Or maybe… i don't think?

This is How We Do

“Bukan dengan cara apa lo bisa having fun. Tapi dengan siapa lo mau berbagi semua fun yang lo punya.” – Alex Magaz.inc

They say, i always know how to entertain myself *ambigu banget. Somewhat that could be true. Gue bisa menikmati ngopi hanya ditemani buku dan pena. Gue bisa menikmati nonton film sendirian di bioskop selama gue dapat posisi tempat duduk yang paling asyik. Gue juga bisa menikmati ke toko buku sendirian, membeli komik dan novel fiksi, dan tentu saja membacanya sendirian. I like to be alone, and i’m happy.

No, am not an anti-social. I have many friends that i treasure so much, they are define me completely.  kami hanya dipisahkan oleh waktu, tempat, tujuan, dan tentu saja jalan yang diambil. Somehow, by dreams. We are separated by dreams. Currently we are fighting to chase our dreams.

And then, i’m stuck. I exactly know what i want. Am on my way to go there. but, am just stuck. You know exactly what you want to do but you just can’t. You even know that you love to do that, but still, you can’t. Probably i am in the state what people called it, lonely. Feeling lonely makes you can’t do anything no matter how much you force yourself.

I like to be alone, but i hate lonely.

it happened for several weeks. i tried many things to erase this. hang out with people. watched movies. read many books. traveled. ate as much as i could. but it still there, lonely-thing.

so, i decided to try this one. write about one of my precious moments i have. when i thought i don’t need any other person. when i felt so tired. when i only had skepticism. when i spoke sarcasm. when i didn’t listen. when i was an ignoring bitch. but also, when i got many lessons. and the most important things, when i was could and happy doing many things.

Quote paling atas yang gue kutip dari Alex Magaz.inc, Halaman terakhir dari komik kampus di majalah kampus, yang juga sekaligus edisi terakhir dimana gue menjadi managing editor-nya.

By: Agung 'Alex' Rizani

By: Agung ‘Alex’ Rizani

Kami menginjak tahun ketiga sebagai mahasiswa di kampus tercinta itu. Dan akan menjadi tahun terakhir gue sebagai managing editor di majalah kampus.

“Kita perlu bikin edisi terakhir sebagai edisi khusus. 100 halaman!” katanya dengan wajah bersemangat. Wajah terlalu bersemangat yang seolah-olah minta ditabok sama wedgesnya sendiri. Manusia normal akan tertawa sambil menganggap itu sebagai kentut yang berbau sebentar, kemudian menghilang. Tapi dengan gobloknya, gue malah ikutan bersemangat meski muka gue datar-datar saja. I thought, that would be awesome!

Padahal, jangankan 100 halaman, 32 halaman untuk edisi yang terbit dua bulanan itu aja ngerjainnya mesti menguras banyak tangis, keringat, makanan, dan makian. Makian penyesalan mengapa kami harus kerja sosial untuk menerbitkan sebuah majalah ngehe. Gue sadar tim kami membuat majalah hanya bermodalkan passion yang muncul dan hilang tergantung mood. Tapi karena gue merasa 100 halaman itu awesome, challenge accepted. Saat itu gue menyadari, bahwa gagasan-gagasan kurang ajarnya selalu menjadi tantangan buat gue.

“Aguuuung…. agung. Main yuuuk,” teriaknya, dari depan kontrakan Agung, salah satu dari desainer grafis dan ilustrator berharga tim kami yang penuh talenta dan bersedia menghidupkan tokoh Alex dan Udin dengan sangat hebat. (yang mana sangat berhasil, karena saat rapat redaksi, gue cuma bilang bahwa gue pengin bikin komik yang contoh nama tokohnya Alex dan Udin, yang punya karakter berbeda dalam menjalani keseharian sebagai mahasiswa).

Agung keluar dari kosan, dengan celana panjang batik-nya yang dia pakai setiap malam, dan seringkali dipakai juga untuk ke kampus. Matanya setengah mengantuk -dan memang selalu setengah mengantuk- tapi rambut setengah kribonya tetap menempel dengan mantap di kepalanya. Pokoknya, kalau ngebayangin Agung itu gimana, nggak beda jauh sama Alex di komik itu.

“Gimana? Lagi dikerjain Alex-Udin nya? Kita belikan cemilan dulu buat penambah semangat ya. Lo mau kita jajanin apa, Gung?”. Dengan gaya bercanda, ia bilang jajanan ini adalah ‘sogokan’. Tapi gue bisa melihat ada sincerity yang dia berikan. Hal yang sangat sulit gue lakukan, to be sincere. Hal yang saat itu gue pikir gue nggak perlu dilakukan karena orang lain cenderung tidak menghargai ini dan seringkali disalahpahami sebagai ‘ada maunya’. Agung hanya tersenyum ngehe sambil merokok dan duduk di warkop. Teras rumah kontrakan Agung ada warung kopi dan indomie. Gue bersyukur itu bukan kontrakan gue, ga gitu aja gue sudah gendut banget, apalagi kalau warung indomienya nyatu sama kosan.

Saat itu, gue dan perempuan yang gemar memakai wedges dan daleman tank top itu melakukan langkah ekstrem. Menagih halaman-halaman majalah yang didesain oleh tiga desainer ke kosan mereka masing-masing. Cara ini sebenarnya brutal dan kasar. Tapi apa boleh buat, demi ambisi 100 halaman. Lagipula, sms dan telepon bukanlah cara yang baik karena dicurigai mengakibatkan di-blok nya nomor kami berdua. Kami sadar, desainer-desainer kami sudah berusaha keras, karena itulah, mendatangi mereka adalah dukungan moral yang bisa kami berikan. Meskipun lebih kayak minta diusir dan ditutup pintu.

Agung mengajak kami masuk ke dalam kontrakannya. Kami gugup. Takut di apa-apain. Jangan-jangan Agung sudah muak dengan kehadiran kami dan memutuskan menjerat leher kami dengan helaian indomie karena nagih halaman mulu. Syukurlah, bukan. Agung berbaik hati memperlihat komik yang sedang dalam proses pengerjaan. Biasanya, kolom Komik Kampus terdiri atas dua comic strip 4 kolom kayak komik Kobo-Chan. Kali ini, Agung mendapat jatah lima halaman. Saat itu, gue melihat halaman terakhir tersebut yang sedang diwarnai, dan gue terkesima. Itu adalah halaman favorit gue dengan cerita favorit gue, serta ‘line’ favorit gue.

100 halaman yang kami kerjakan penuh perjuangan itu selesai. Nggak pernah dalam hidup gue selama kuliah, merasa sangat capek dan habis-habisan. Physically, and mentally, and emotionally… Bahkan nggak saat gue mendaki Gunung Gede di tengah UTS atau saat di-training jadi ‘kakak ospek’. Nggak juga saat kuliah Data Management. ehm. Atau, to be honest, saat gue mengerjakan skripsi. Tapi hasilnya membayar semua rasa kelelahan dan muak gue selama menyelesaikan project itu. Bahkan dikasih kembalian, yang mungkin bakal terus nyisa sampai akhir hayat nanti. Atau kalau gue menderita amnesia.

Dan soal kerja keras, menjadi hal lainnya yang bisa gue ambil dari perempuan yang suka kesurupan itu. Nggak ada mahasiswa baru yang bisa sekurang ajar dia. Politik, media, event, akademis, sosial, seni.. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik – bahkan lebih – untuk semua bidang kehidupan di kampus. Gue bukan anti-sosial. Gue bisa ramah, kadang-kadang. Tapi gue juga bukan orang yang akan berusaha mendekat terlebih dahulu. Pada akhirnya, gue lebih senang berada di paling belakang, agar gue bisa melihat semua orang. Mengamati, memilah-milah. Menemukan manusia yang menarik untuk sekadar diamati.

Tanpa sadar, gue selalu berada di sekitarnya. Dan gue belajar banyak dari segala hal yang dia lakukan dan tidak dia lakukan.

Belajar terbuka pada orang asing saat pertamakalinya dia memperkenalkan diri ke gue – saat pra-orientasi kampus- dengan hebohnya sambil ngatain badan gue kekar.

Belajar bersemangat saat melihat dia yang paling kenceng teriaknya ngasih semangat ke teman-teman lain di kelompok ospek.

Belajar menjaga harga diri dan prinsip saat melihat dia menolak kekuasaan yang ditawarkan

Beajar menjadi ramah dan santun saat melihat dia bercanda dengan dosen, satpam, hingga mamang tahu gejrot

Belajar menghargai dan memperlakukan semua orang dengan baik saat dia bersama teman-temannya

Belajar untuk nggak cuek memberikan perhatian saat dia membelikan obat untuk temannya yang sakit

Belajar untuk menjadi profesional pada kondisi apapun

Belajar untuk terus melakukan hal yang terbaik, all out, untuk apapun yang dilakukan

We had a cup of coffee at warkop. Gue doang yang ngopi. Dia mah minumnya es milo. Meski berada di Bandung bagian selatan, agar coret sedikit, tetap aja asa ti’is kalau udah malam mah.

“Karena udah ga bikin majalah kampus lagi, kita bikin majalah sendiri yuk. Majalah isi panduan gitu,” katanya dengan gaya kurang ajarnya seperti biasa.

Dan lagi-lagi, challenge accepted. Pepatah bilang, if you want to do something stupid, don’t do it alone.

“Bukan dengan cara apa lo bisa having fun. Tapi dengan soap lo brewage semua fun yang lo punya. Dan sahabat tempat terbaik karena bareng mereka, nagged ngapa-ngapain pun bakal berasa fun banget.”

And that’s what we did. We laughed, we cried, we talked, we walked, we ran, we wrote, we  were frustrated and crazy, together. Untungnya bagian kesurupan, dia doang, gue nggak ikutan.

Hingga saat ini, belum ada orang seberani sekaligus sebodoh itu untuk melakukan hal-hal gila bersama gue.

And that’s how i remember every single thing we did to let the heavy loneliness go. Then we got the happiness from craziness.

And i will look forward to experience that happy-craziness, again.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 26, 2015 by in friends and tagged , , , , .
%d bloggers like this: