Lost Focus

I'm thinking about everything. Or maybe… i don't think?

Get Lost at Chatuchak Weekend Market Thailand

Katanya, interaksi antarmanusia yang paling menarik dan beragam, dapat kita lihat saat berada di pasar.

Gue pernah kabur sendirian di pagi hari saat di Penang cuma buat pergi ke pasar tradisional-nya. Dan hampir nyasar nggak tahu jalan pulang. Makanya, saat lagi di Bangkok, gue bela-belain nyeret paksa anak orang yang diberi nama Fika, ke Chatuchak Weekend Market.

Meet My Travel Mate

Rafika Pamenang & The Bekantan

Rafika Pamenang a.k.a Fika (yang megang boneka Bekantan, bukan bonekanya). Galuh Banjar 20xx (macam None-nya Jakarta gitulah..). Hobi: Belanja & Selfie

Meski sebenarnya sudah jadi pasar tujuan wisata, pasar ini tetap memberikan pengalaman menarik untuk interaksi langsung dengan warga lokal. Seperti namanya, pasar Chatuchak hanya buka total pada hari Sabtu dan Minggu. Yang bikin gugup adalah, kenyataan bahwa pasar ini luas banget. Berhektar-hektar. Padahal, jangankan di pasar, di gedung kampus aja gue bisa nyasar.

Gue dan Fika naik BTS menuju Mo Chit Station, jam 9an, kita sudah nyampe sana. Ternyata, pada jam-jam ini, pasar baru dibuka, dan pengunjung belum membludak.  Begitu keluar stasiun, ada deretan pedagang kaki lima di trotoar yang menjual buah-buahan, mainan, hingga pakaian. Dan mereka menjadi menuju bagian dalam pasar Chatuchak.

Starting from… street food.

Orang Indonesia di Bangkok pasti memuji buah-buahannya. Belom juga masuk pasar, udah ketemu sama mangga manis yang disajikan dengan ketan. Kita pun berhenti, jajan dulu.

Mangga manis dengan ketan.

Mangga manis dengan ketan.

Di dalam pasar, jajanannya makin gila-gilaan. Selain mangga ketan tadi, ada signature street food lainnya yang gue suka banget, seperti coconut ice cream. Gue ngehe-ngehe aja sendirian makan ini, ninggalin Fika yang belanja. Ada butiran-butiran kelapa utuh yang dijadikan hiasan. Payung dan kursi untuk pengunjung. Dan display menarik kelapa segar. Es krim rasa kelapa ini disuguhkan dalam batok kelapa, dan disediakan beberapa pilihan topping seperti daging kelapa, kacang merah, dan jagung manis. Dapat bonus segelas air kepala juga.

The shoppaholic says…

Pasar ini bisa jadi surga bagi yang gemar belanja. Bayangkan saja, selain pilihan ratusan tenant, mereka tidak hanya menjual produk-produk massal yang rata-rata dimiliki hampir seluruh toko, layaknya pasar tradisional atau pasar wisata lainnya, tapi juga produk-produk kreatif label mereka sendiri.

Klik gambar buat baca informasi lainnya 🙂

Perempuan gemar belanja mungkin ada yang sudah mengenal aturan ini, barang di satu tempat mungkin memiliki harga yang lebih murah di tempat lainnya. Di Chatuchak, siapkan mental yang kuat untuk menghadapi kenyataan ini. Bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan akan menemukan harga yang lebih murah. Seperti Fika yang kegirangan mendapatkan short denim keren dengan harga hanya 80 baht – hasil tawar-menawar dari harga 100 baht. Rata-rata toko lainnya, menjual seharga 100-150 baht. Tapi memang tidak ada yang namanya abadi, termasuk kebahagian. Kebahagiaan Fika langsung sirna ketika di jalan pulang, menemukan toko yang menjual short denim yang sama dengan harga….. 100 baht dapat dua. Fika pun mengiila.

Toko-toko di sini tidak akan habisnya untuk dijamah, siapkan pakaian yang nyaman, dan mental kuat. Terutama bagi para lelaki yang menemani pasangannya belanja di sini. Pilihannya biasanya cuma ada dua. Menjadi sasaran keluhan perempuan tentang harga yang lebih murah dan letih dimintai pendapat mana yang lebih bagus atau…. justru ikutan heboh belanja. Wahai kaum pria, kami mengerti sekali bahwa sesungguhnya, Anda juga akan tergoda dengan barang-barang fashion. Tidak apa, ini normal.

And yes, i almost got lost…

Setelah tiga jam berkeliling pasar. Kami memutuskan pulang. Padahal, tiga jam sih cuma dapat keliling sepertiganya pasar Chatuchak.

Ini adalah alasan-alasan kenapa kamu memutuskan menyudahi berkelana di dalam pasar Chatuchak:

  1.  Ada jadwal lainnya di tempat lain, misal, harus memotret marching band untuk kejuaraan international (i will tell the story about this later)
  2. Kaki lecet, seperti Fika yang datang ke pasar dengan sepatu ber-hak tinggi.
  3. Masuk angin karena hujan, saat itu sempat hujan, gue dan Fika pun kehujanan.
  4. Kehabisan duit
  5. Khawatir kehabisan duit (ini alasan utama versi gue dan Fika)
  6. Pasar tutup.

Bonus: Fika dan bajunya

Jangan memakai ini ke pasar mana pun, apalagi Chatuchak. 1. high-heels 2. Baju terusan panjang yang pas badan

Jangan memakai ini ke pasar mana pun, apalagi Chatuchak.
1. high-heels
2. Baju terusan panjang yang pas badan

Sebenarnya, Fika di sini bukan untuk menemani gue ke pasar. Tapi dia ada mengemban tugas negara sebagai pemuda daerah yang baik hati. Dress yang dipakai terbuat dari Kain Sasirangan, ini adalah ‘batik’-nya orang Banjar, Kalimantan Selatan.

Kalau gue jalan sendirian di sini, gue nggak yakin bakal keluar hidup-hidup dengan bahagia. Untungnya ada Fika. Dia berhasil menunjukkan jalan keluar. Pas jalan, gue menyadari bahwa pintu masuk ke pasar ini banyak. . Dari jalan berukuran lebar lengkap dengan gerbang, hingga jalan masuk yang cuma muat satu badan. Akhirnya gue belajar tentang trik keluar hidup-hidup dari pasar ini. Jika ingin masuk ke dalam, tuju saja salah satu sudut deretan toko atau kios, jalan muat satu orang saja akan mengantarkan kita ke pusat pasar. Sama hal nya jika ingin keluar, masuk saja ke dalam gang-gang di dalam pasar dan ikuti cahaya terang yang bersumber dari… jalan raya. Kebetulan sekali, pasar Chatuchak bersebelahan langsung dengan jalan besar.

This slideshow requires JavaScript.

Cara ke Chatuchak 

Ada dua cara termudah menuju ke Pasar Chatucak. Dapat menggunakan transportasi MRT (Mass Rapid Transit) atau BTS (Bangkok Skytrain). Jika lokasi awal lebih dekat dengan BTS, ambil jalur ke arah Mo Chit Station (kode N8), ini adalah stasiun terakhir di jalur ini. Keluar dari Mo Chit Station, ikut papan petunjuk dan keluar di exit number 1. Ikuti keramaian hingga menemukan pintu masuk. Tandanya, banyak pedagang yang menjual pakaian. Jika menggunakan MRT, berhentilah di Kamphaeng Phet Station (jangan turun di Chatucak Park Station). Ambil exit number 1 dari stasiun ini dan kamu langsung berada di tengah keramaian pasar Chatuchak.

*this story published in Travel Fotografi Magazine Volume 17

Selain menyeret-nyeret Fika ke pasar, gue juga sempat main ramean di Madame Tussauds Bangkok dan merasakan kesepian imut-imut gitu di dalam Grand Palace.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 20, 2014 by in friends, people, Travel and tagged , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: