Lost Focus

I'm thinking about everything. Or maybe… i don't think?

Gula-gula Kapas

Orang-orang berlalu lalang. Pekikan tawa dari sekelompok remaja yang lewat. Seruan seorang ibu yang mengejar anaknya sedang berlarian. Perdebatan tawar menawar antara pedagang dan sepasang muda-mudi yang lewat. Dada berdegup kencang dan kepala serasa kosong. Tapi ia di sana, mencolok di antara keramaian.

DSC_1561

Sore itu gue memandangi sebuah jam yang menjulang tinggi di hadapan. Iya, Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Gue mengeliling Jam Gadang yang dipagari itu. Mencari-cari sudut pandang menarik untuk mengambil foto. Satu langkah ke belakang. Belum dapat gue bayangkan mau memotret seperti apa. Padahal, kata fotografer-fotografer yang pernah gue temui, mereka selalu bilang sudah tahu hasilnya akan seperti apa sebelum memotret. Gue mendesah perlahan. Jauh sekali levelnya sampai gue bisa seperti mereka.

Gue berusaha untuk nggak menyerah. Jadi, gue mengambil beberapa langkah lagi ke belakang sambil tetap mendongak ke atas memandangi ujung Jam Gadang. Selangkah… dua langkah… saya menabrak seorang pemuda yang sedang mengambil foto. Kalau saja ini cerita ftv, adegannya akan berlanjut pada kami yang berlagak marah dan berakhir dengan saling jatuh cinta. Tapi karena ini kehidupan nyata, gue degera memalingkan wajah dari ujung jam gadang ke pemuda tadi dan meminta maaf. Ternyata tadi ia sedang mengarahkan smartphone untuk memotret pacarnya yang berpose bersandar di pagar Jam Gadang. Karena itulah gue memutuskan minta maaf dengan cepat-cepat dan nggak penuh drama karena ini bukan FTV.

Setelah merasa iri sedikit pada perempuan-pagar-jam-gadang tadi, gue mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ramai. Tempat ini ramai dikunjungi orang. Baik masyarakat lokal, maupun wisatawan. Lokasinya yang juga masih satu area dengan dengan Pasar Ateh dan sebuah plaza mungkin juga turut andil menambah ramai tempat ini.

Sekelompok remaja perempuan lewat dan tertawa bersama. waktu SMA, gue sama teman-teman gue ketawanya heboh gitu juga nggak ya. Seorang ibu setengah berlari mengejar anaknya sambil berseru. Jangan-jangan dulu nyokap juga seperti itu saat berusaha menangkap anaknya ini yang lari-lari kaya ayam lepas. Para pedagang yang membuka lapak sendiri di sekitar jam gadang menawarkan dagangannya pada siapa saja yang lewat. Semangat berdagangnya, bapak, ibu!

Tapi hanya sekejap gue bisa melihatnya dan mendengarnya. Suasana ramai itu. Karena gue kemudian menjadi mematung. Menyadari keramaian di sekitar membuat gue menjadi linglung. Rasanya seperti berdiri diam saat lingkungan sekitar bergerak cepat dalam mode timelapse. Seperti dikerumuni hantu yang bersuara bising. Dada berdegup kencang. Tapi kepala serasa kosong. Perasaan yang sama yang pernah terjadi saat gue masih SD.

Tepat di samping rumah gue waktu SD ada lahan kosong yang cukup besar. Di sana, sering dibangun pasar malam sementara. Semacam taman hiburan keliling yang beroperasi setiap malam selama periode tertentu. Banyak orang menjual mainan dan pakaian. Ada wahana-wahana seperti merry-go-round, bianglala, dan rumah hantu. Dan yang selalu ada, tong edan. Atraksi sepeda motor yang akan berputar dari dalam dasar ‘tong-raksasa-dari-kayu’ dan lama-lama akan naik perlahan. Suara motornya bising banget sampai kakak gue pernah kabur ke rumah nenek karena nggak tahan sama suara bisingnya.

Entah sejak kapan gue nggak terlalu suka berlama-lama di tengah keramaian. Gue takut manusia dengan jumlah yang banyak. Makanya gue suka heran dengan orang-orang sekampung yang akan berbondong-bondong mengunjungi pasar malam di sebelah rumah. Orangtua gue juga bukan tipe yang akan mengajak anak-anaknya keluar rumah menuju tampat ramai yang sesak. Mereka lebih senang menemani anak-anaknya main monopoli di rumah atau mengajak naik mobil berkeliling kota.

Hanya saja malam itu gue berdiri di antara keramaian pasar malam. Gue adalah anak cupu yang takut sama badut. Gue bahkan nggak berani naik merry go round. Jadi apa yang bisa gue lakukan di sana? Gue yang kecil di antara orang-orang besar yang bergerak cepat dalam mode timelpse. Saat itulah gula kapas berwarna pink norak itu mengalihkan perhatian. Ia terlihat mencolok di antara hiruk pikuk. Entah karena warna pink-nya itu atau karena ukurannya yang besar yang nyaing-nyaingin guling gue saat kecil. Gue memfokuskan perhatian dan mendekati tempat gula kapas itu dijual. Ada sebuah panci yang porosnya berputar. Si bapak empunya ‘panci’ memasukkan sesendok butiran gula berwarna ke porosnya. Dan voila! Lama-lama ada jaring seperti rumah lapa-laba dengan warna pink menempel di sekitar bagian dalam panci. Bapak itu mulai memasukkan sebatang lidi besar untuk mengumpulkan jaring-jaring kapas tersebut. Ia menyerahkan buntelan kapas pink itu yang gue pandangi dengan penuh kekaguman. Iya, norak emang. Gue cubit sedikit kapas pink itu dan rasanya manis. Terlalu manis. Bleh. Mau dilepehin tapi ia langsung meleleh di mulut. Hanya menyisakan sedikit rasa pahit di lidah. Lagi aaah… dan akhirnya, gue jatuh cinta pada gula kapas yang manis ini.

Dan di dekat Jam Gadang itulah, gue kembali memegang gula-gula kapas. Mencubitnya sedikit dan merasakan kapas itu melebur hilang di dalam mulut. Rasa manis yang tersisa kemudian berubah menjadi sedikit pahit. Dan mode timelapse berhenti. Sekeliling gue tampak kembali normal dan gue menjadi sedikit lebih tenang dan kembali menikmati keramaian. Saat gue menghilang tak tentu arah, gula-gula kapas itu ada di sana. Menyelamatkan gue dari jebakan mode timelapse.

Sebuah pesan masuk ke Instagram. Ada seorang teman yang memberi komentar pada sebuah foto tanpa informasi lokasi yang gue upload sebelumnya selama berkeliling Sumatera Barat. “Lo lagi di mana sih, lee?”. Gue sedikit merenung. Iya juga ya, kenapa gue mendadak ada di sini. Akhirnya gue memotret gula kapas ini dengan latar belakang Jam Gadang, menunjukkan lokasi tempatku berada sekarang. Warna pink gula kapas ini menyeretku pada putaran jarum Jam Gadang. Pada waktu yang telah berlalu cepat dalam mode timelapse. Bahwa mungkin bukan hanya saat gue berdiri di hadapan Jam Gadang saja semua terasa bergerak cepat seperti hantu. Bahwa mungkin kehidupan di sekeling gue saat ini memang bergerak seperti itu hingga gue kehilangan fokus. Kembali terngiang pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seringkali membuatku bingung harus menjawab apa. “Setelah ini, mau jalan ke mana lagi, el?”, “Gimana petualangan lo sekarang?”, atau “Lia, kapan pulang?”. Bertualang? Pulang? Jika pertualangan adalah saat gue berada di dalam dunia yang bergerak cepat di mode timelapse dan jika pulang adalah saat gue bisa kembali fokus pada pink gula kapas itu, mungkin saat ini gue hanya belum waktunya untuk pulang, hingga saatnya gue bisa menemukan gula kapas berwarna pink berukuran sangat besar yang sanggup membuat gue keluar dari jebakan timelapse. Untuk sementara, gula-gula kapas yang berada di tangan ini sudah cukup.

Advertisements

One comment on “Gula-gula Kapas

  1. Pingback: #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang” | TravellersID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 28, 2014 by in Travel and tagged , .
%d bloggers like this: